Dont Let it Break Your Heart, Baby
sedikit curahan hati di bulan Mei tahun 2016

sudah bertahun-tahun sejak gue meninggalkan hobi gue nulis. walaupun sebenernya tulisan gue ini murahan karena mostly isinya cuma curhat yang ga jauh-jauh dari friendship stuffs atau love stuffs. gue pun gak nulis pake bahasa yang indah-indah banget karena sepertinya gue ga punya sense of artnya gitu. ditambah lagi gue sepertinya orang yang tidak cukup kuat sama kritik atau hinaan orang lain. waktu gue SMA ada beberapa orang yang baca blog gue dan menghina blog gue karena tulisannya kurang bermutu. dan ditambah lagi ada juga seonggok orang yang menghina gue karena gue ngepost pake bahasa inggris di twitter sering banget grammarnya salah dan dia kayak… “kalo gak bisa bahasa inggris ya ga usah ngomong pake bahasa inggris”

mungkin orang2 yang di atas itu gatau apa yang mereka lakukan ke gue membawa impact yang cukup besar bagi gue. sekarang kalo gue mau nulis atau mau ngepublish tulisan gue, yang ada di otak gue cuma “aduh ini sampah gak ya tulisannya“. gue kayak kehilangan percaya diri gue terhadap tulisan gue sendiri. terus gue juga meragukan kemampuan bahasa inggris gue sendri. padahal dulu waktu gue smp gue sering banget bikin cerita pake bahasa inggris dan gue sangat pede dengan itu walaupun grammarnya berantakan. but at least, gue menghasilkan sesuatu. gak kayak sekarang dimana bahkan ketika gue pengen  ikut lomba yang bahasa inggris gue udah minder duluan karena gue merasa terus-terusan kalo gue gabisa bahasa inggris.

kenapa gue nulis kayak gini?

pertama, gue lagi capek banget. kedua, gue merasa beberapa orang melakukan sesuatu tanpa mikirin perasaan orang lain. gue merasa gue menjaga perasaan semua orang. especially orang-orang terdekat gue. gue capek. sayangnya gak semua orang merasakan hal serupa ke gue. dan terutama juga orang2 terdekat gue. lyk sepertnya mereka ngecap gue bukan tipe orang perasa. tapi kalo malem gini tiba-tiba semua hal memenuhi otak gue dan gue merasa sangat merana akan itu semua.

gue tau sih mungkin bagi beberapa orang melakukan hal tersebut ga bakal bedampak apapun ke gue. karena mungkin hal-hal yang mereka lakukan itu bagi mereka gak ada artinya. seperti mereka yang ngomong ke gue “ah blog lo gak mutu. tulisan lo gak jelas” atau bilang “lo gak usah ngomong pake bahasa inggris kalo gabisa bahasa inggris” atau hal-hal sejenis lainnya. gue adalah orang yang sangat perasa. tapi gak semua yang gue rasakan itu bakal gue perlihatkan. gue lebih sering menyembunyikannya dibalik ke-bodo-amat-an gue atau kepribadian gue lainnya yang orang lain lihat.

menurut gue sifat gue yang satu ini merupakan kelemahan gue, yang artinya ketika sifat gue yang sekarang ini sedang muncul, gue gak bakalan kasih tau kalo emang sifat ini sedang muncul. gue bakal memilih untuk menjauhi orang yg gak sengaja menyakiti gue itu (padahal mereka ga bermaksud nyakitin) atau diem.

jadi sepertinya orang-orang terdekat gue bisa mengerti kenapa gue tiba-tiba diem. atau menjauh. atau ekstrimnya berubah sifat.

c a p e k.

punya kelemahan kaya gini.

semarang,

lima menit sebelum 15 mei.

tomorrow is my fav guy’s birthday. and these are 100/600 photos of us (mostly of him) in my gadget. we’re separated like 122kms away but thank to Apps such as snapchat and line so i can get his pictures like everyday

tomorrow is my fav guy’s birthday. and these are 100/600 photos of us (mostly of him) in my gadget. we’re separated like 122kms away but thank to Apps such as snapchat and line so i can get his pictures like everyday

scarytrees:

someuphillbattle:

arkolonaut:

I’m just curious - where do people get their motivation to keep drawing? :V

shia labeouf

image
I love you so much I almost hate this feeling.
(via ohlovequotes)

vansgoghs:

                                               Snow has to die for what he’s done.                                             We all have one enemy. He corrupts everyone and everything! He turns the best of us against each other.

castielcampbell:

summershadowtwin:

fuckshitasscunt:

Science fails to recognize the single most potent element of human existence 

There is no spoon

there is no scientist

Puzzled

biarkan saya menarik nafas yang cukup panjang, dan membuangnya bersama perasaan saya.

langit malam ini cukup cerah. bintang-bintang terlihat dengan jelas. membuat saya ingin melakukan sesuatu yang paling saya sukai. menatap langit malam, memperhatikan bintang, dan menyapa bulan yang padahal hanya bertugas memantulkan cahaya matahari. padahal sesederhana mendongak ke arah langit di malam hari. tetapi membuat saya  tersenyum dan senang. memang. bahagia memang sesederhana itu.

kata orang, perasaan sedih, galau, gundah gulana, bimbang akan membuat seseorang lebih terpacu untuk menulis. terlebih tentang perasaannya. saya mencoba mempraktekkan apa yang kebanyakan orang itu katakan. dengan menulis tulisan ini.

bisa jadi saya merasa seperti ini karena saya sedang lelah. saya mengikuti tiga organisasi di kampus, mata kuliah di semester ini tidak semudah di semester satu, dan tekanan dari segala macam arah datang menghampiri.dan mencampuri hidup saya. saya berada pada titik jenuh akan semua hal di luar akademik. kepala saya bisa sakit setiap kali saya memikirkannya. saya seperti muak. ingin muntah. ingin menangis sekeras-kerasnya. meneriakkan kalau saya sudah cukup. cukup dengan segala macam beban yang seperti ini. saya ingin sekali keluar dari semuanya dan memfokuskan diri ke akademik saya,

tapi bukan. itu bukan cara yang jantan. itu cara pengecut.

dan bukannya saya tidak memiliki masalah dengan diri saya sendiri. semakin kesini saya menemukan banyak hal yang saya tidak sukai dari diri saya sendiri dan bahkan saya tidak yakin saya dapat mengubah hal tersebut. saat ini saya benar-benar merasa pada titik puncak merasa kesepian di tengah keramaian. banyak sekali orang di sekeliling saya. tapi saya masih merasa kesepian. sangat kesepian.

terakhir, saya kecewa dengan diri saya sendiri. lagi-lagi saya mengambil tindakan bodoh dengan tidak menjaga baik-baik perasaan saya yang sebenarnya saya yakin sudah tidak bisa bekerja dengan baik lagi. saking seringnya hati saya patah, terluka, dan yang paling sering adalah : kecewa. saya sering menganalogikan. orang jatuh cinta itu ibarat berdiri di tepian jurang. orang yang ia cintai berdiri di dasar jurang tersebut dan seakan meyakinkan orang tersebut untuk terjun saja. orang yang sudah berdiri di tepi jurang itu kemudian berpikir. haruskah ia terjun. haruskah ia percaya dengan perkataan orang yang ia cintai untuk terjun (padahal belum tentu orang itu benar-benar mengatakannya). orang yang berdiri di tepi jurang ini kemudian melihat ke arah belakang. dan kemudian seonggok perasaan bernama cinta semakin meyakinkannya untuk terjun ke jurang. pada akhirnya, orang ini terjun. tanpa tahu. apakah orang yang ia cintai akan menangkapnya di dasar jurang itu. kalau orang yang ia cintai menangkapnya, selamatlah hidupnya. ia akan merasa senang setengah mati dan tidak akan sedikitpun menyesal telah membuat keputusan yang sangat beresiko itu. akan tetapi bagaimana bila orang yang ia cintai tidak menangkapnya? jatuh. sakit. luka. cacat. meninggalkan trauma untuk kembali terjun dari tepi jurang itu.

ya. terjun dari tepi jurang itu jatuh cinta. dan apabila orang yang ia cintai menangkap, maka cintanya berbalas. akan menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri. namun apabila ia tidak menangkap, saya yakin, kalian pasti mengerti maksud saya.

saya saat ini sedang berada di tepian jurang itu. memperhatikan ke dasar jurang. satu dari 127 juta laki-laki di indonesia itu sedang mendongak ke arah saya dari dasar jurang. tangannya diayunkan seakan ia memberikan isyarat untuk saya terjun dari tepi jurang itu. sayangnya saya masih tidak yakin apakah orang tersebut akan menangkap saya nantinya atau tidak karena saya sudah terlalu sering mendarat dengan luka di dasar jurang tersebut. 

ini yang membuat saya kecewa dengan diri saya sendiri. di saat tekanan sedang berada dimana-mana, perasaan dan hati saya malah bermain-main dengan saya. seakan itu adalah hal yang lucu dan pantas untuk ditertawakan.

terakhir, saya ingin menceritakan. saya sudah mendengar 17 kali lagu Adele yang berjudul Chasing Pavements.

should i give up or should i just keep chasing pavements?

Don’t fight about money in front of your kids.

skyscribbles:

apocalyptic-assassin:

coloradoqueen:

They will feel guilty like it’s their fault and not ask for necessities when they run out.

Don’t fucking do it.

Don’t use money AGAINST your kids either. Don’t EVER tell them money is tight when it’s not, and they KNOW it’s not. That’s another way for them to not trust you or to feel guilty when asking for anything. 

Also don’t use money as a guilt tactic for them not doing something or not agreeing with you.

“I buy your food and your clothes and this and that and this is how you repay me?”

They didn't ask to be born, you made the choice to have a child and take care of them as a responsible parent. Don’t throw that guilt on them and make them feel like shit over what they couldn’t control.

tastefullyoffensive:

Mother cat gives her kittens a fighting lesson. [x]